Didikan Stigma Masyarakat?


Realita yang terjadi di sekitar kita, kebanyakan anak dididik atas dasar rasa malu—rasa takut dianggap gagal di mata masyarakat. Bukan atas dasar kasih sayang, bukan karena ingin membentuk karakter yang bertakwa, melainkan karena takut menjadi bahan omongan.

Contoh nyata, ketika ada seorang anak yang telah dikenal berprestasi namun ternyata tidak lolos ke Perguruan Tinggi Negeri (PTN) manapun. Sementara itu, teman-teman seangkatannya yang juga merupakan tetangga—bahkan mungkin tidak sepintar dia—justru diterima di berbagai kampus ternama.

Apa reaksi orangtuanya?

Alih-alih menjadi tempat pulang yang menenangkan, justru rumah berubah menjadi ruang penghakiman. Bukan karena anak tersebut kurang berusaha, melainkan karena orangtuanya merasa "malu". Seolah kegagalan sang anak mencoreng nama baik keluarga. Semua itu semata karena stigma masyarakat menjadi tolok ukur utama.

Orangtua merasa aib.
Orangtua merasa gagal.
Dan sayangnya, tekanan itu kemudian dilimpahkan kepada anak—dengan kata-kata yang menyudutkan, penuh perbandingan, bahkan sampai mempertanyakan harga dirinya.

Padahal, mari kita renungkan: Apakah standar hidup kita benar-benar harus ditentukan oleh penilaian manusia lain?

Bayangkan betapa rumit dan capeknya hidup jika semua keputusan, semua nilai, semua arah pendidikan, hanya berputar pada validasi sosial. Kalau hari ini berhasil, kita dipuji. Tapi begitu gagal, kita disudutkan. Kalau seperti itu terus, maka pendidikan pun akan kehilangan arah—bukan lagi soal kebaikan, tapi tentang "bagaimana agar tidak malu".

Berbeda halnya jika orangtua mendidik anak atas dasar halal dan haram—bukan aib dan gengsi. Mendidik anak atas dasar keimanan dan tanggung jawab kepada Allah. Dalam sudut pandang ini, kegagalan dunia bukanlah kehinaan, dan keberhasilan dunia bukanlah segalanya.

Orangtua dan anak akan belajar untuk menerima setiap ketentuan dengan lapang. Mereka tidak patah saat diuji, tidak sombong saat berhasil. Karena mereka yakin bahwa selama ikhtiar dan doa telah dilakukan dengan sungguh-sungguh, maka sebaik-baik keputusan adalah yang datang dari Allah.

Mendidik anak seharusnya bukan untuk memenuhi ekspektasi tetangga, tapi agar anak kelak mampu menjadi manusia yang kuat dalam iman, teguh dalam prinsip, dan utuh sebagai pribadi.

✨ Karena ketika sandaran hidup ditujukan kepada Allah, bukan manusia, maka pendidikan pun berubah menjadi proses yang membebaskan—bukan yang menekan.

Komentar

Postingan Populer