Kabar dari Rumah yang Mengubah Hariku
Pagi yang Tiba-Tiba Berubah Hari ini aku berangkat lebih cepat dari biasanya. Ada jadwal piket di sekolah, jadi pagi terasa sedikit lebih sibuk. Udara masih dingin, lorong-lorong belum ramai, dan langkahku ringan seperti hari-hari biasa. Seperti biasa pula, Ayah mengabariku. Kadang dengan sapaan hangatnya, kadang dengan doa tulus yang selalu beliau sisipkan. Pagi itu tidak ada tanda apa pun. Semuanya terdengar baik-baik saja. Aku bahkan sempat membalas dengan santai, seperti rutinitas yang akan selalu ada. Hingga selang satu jam kemudian, kabar itu datang. Kakakku mengabari bahwa Ayah sakit. Kalimat yang sederhana, tapi mampu mengubah seluruh suasana pagi. Tanganku mendadak dingin. Ruang yang tadi terasa biasa saja berubah menjadi sempit. Suara-suara di sekitarku seperti menjauh. Aku membaca ulang pesan itu berkali-kali, berharap aku salah mengerti. Aku panik. Aku meminta penjelasan. Aku menelpon untuk memastikan kondisi di sana. Saat nada sambung terdengar, detiknya terasa...