Seiring Waktu, Seiring Perjalanan
Perjalanan menjadi seorang pengajar tidak pernah hadir tiba-tiba. Ia tumbuh perlahan dari pengalaman-pengalaman kecil, dari rasa empati yang muncul sejak masa kanak-kanak. Aku lahir dan tumbuh di sebuah dusun kecil di pesisir Sulawesi Selatan, tempat sebagian besar warganya berprofesi sebagai nelayan. Hidup di tengah masyarakat sederhana dengan segala keterbatasannya membuatku sering menyaksikan teman-teman sebaya yang harus berhenti sekolah. Terutama anak laki-laki yang sejak dini dituntut membantu ayahnya melaut. Ada perasaan sedih setiap kali naik kelas, karena selalu ada wajah-wajah yang hilang, tertinggal di belakang bangku sekolah demi mencari ikan di laut.
Rumahku kala itu juga menjadi saksi dari realitas tersebut. Orang tuaku membuka warung kecil dan rental PlayStation. Hampir setiap hari, anak-anak sebaya bermain di sana. Namun aku sering dibuat terkejut, karena sebagian dari mereka ternyata belum bisa membaca. Ada rasa miris—mereka bisa menguasai permainan, tapi tertinggal dalam hal yang paling dasar: membaca dan menulis.
Pengalaman belajarku mengaji pun tak kalah penuh liku. Aku belajar dari seorang imam tua di masjid. Beliau penuh keikhlasan, tapi metode belajar kala itu sangat terbatas. Ketika beliau menikah kembali, kegiatan mengaji kami perlahan terhenti. Sejak itu, kami anak-anak dusun berpencar mencari guru ngaji di desa sebelah, bahkan ada yang rela menempuh jarak jauh hingga ke perbatasan kabupaten. Semua demi bisa sampai ke momen wisuda mengaji.
Seiring bertambah usia, aku mulai merasakan panggilan untuk berbuat sesuatu. Saat SMA, bersama teman-teman sebaya, aku berinisiatif membentuk remaja masjid. Tujuannya bukan hanya menghidupkan kegiatan ibadah, melainkan juga memperbaiki karakter anak-anak di dusun. Saat itu, kami sering melihat fenomena yang memprihatinkan: anak-anak yang memanggil orang tuanya tanpa rasa hormat, bahkan ada ibu yang terbiasa menyebut anaknya dengan nama-nama binatang. Dari situlah muncul keyakinan: jika lingkungan tidak mengajarkan nilai, maka kami sebagai remaja harus mencoba memberi teladan. Lewat remaja masjid, kami mulai mengajar anak-anak mengaji, mendampingi belajar, dan membuat kegiatan produktif. Dari sanalah aku semakin yakin bahwa mengajar adalah jalan pengabdian.
Seiring waktu, aku berkuliah di kota dan tinggal di kos yang letaknya dekat dengan sebuah panti asuhan. Rasa penasaranku membuatku suatu hari memberanikan diri menyapa ibu pengurus. Dengan polos aku bertanya, “Bu, anak-anak di sini ada guru ngajinya?” Beliau tersenyum getir lalu menjawab, “Tidak ada, Nak. Kalau ada yang mau ajari, alhamdulillah sekali.” Jawaban itu menancap di hati, hingga aku spontan menawarkan diri. Bahkan aku mengajak beberapa teman kuliah untuk ikut serta.
Hari-hari di panti penuh warna. Anak-anak menyambutku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. Ada yang tersenyum malu-malu, ada yang duduk diam seolah menguji kesungguhanku. Suatu kali seorang anak perempuan berbisik, “Kak, kalau aku nggak cepat bisa baca, Kakak tetap mau ajarin aku?” Aku tersenyum haru lalu menjawab, “Tentu saja, Nak. Kakak di sini justru untuk menemanimu belajar.” Sejak itu, ia selalu duduk di barisan depan, meski huruf-huruf masih sering menari-nari bingung di matanya. Ada pula seorang anak laki-laki yang nyeletuk, “Kak, belajar ini buat apa sih?” Aku menatapnya lalu berkata, “Belajar itu bukan hanya untuk hari ini, tapi supaya kamu punya pilihan hidup di masa depan. Kalau tidak belajar, dunia yang akan memilihkan untukmu.” Sejak saat itu, meski masih suka usil, ia mulai serius mendengarkan.
Pengalaman di panti membuatku sadar bahwa mengajar bukan hanya soal huruf dan angka, tetapi juga tentang menyentuh hati. Aku belajar mendengar cerita rindu, kesepian, dan harapan dari anak-anak yang tidak punya apa-apa, tapi masih bisa tertawa lepas. Aku pulang dengan hati lelah sekaligus hangat, membawa keyakinan bahwa menjadi guru berarti belajar bersama, bukan hanya mengajar.
Hingga akhirnya aku memasuki masa PPG dan PPL di sekolah. Di situlah aku benar-benar berada di kelas, menyiapkan pembelajaran, menghadapi beragam karakter, sekaligus belajar memanajemen waktu. Pengalaman itu semakin menguatkan panggilan hatiku: bahwa jalan yang kupilih sudah tepat.
Dan kini, perjalanan itu membawaku pada fase baru. Alhamdulillah, aku dinyatakan lulus seleksi PPPK guru dan ditempatkan di Sulawesi Tengah. Rasanya masih sulit dipercaya—aku yang tumbuh di dusun nelayan, kini bersiap merantau untuk mengajar secara profesional. Di tengah persiapan keberangkatan, Allah menghadirkan kejutan-kejutan indah: orang tua yang mempercayakan anak mereka untuk belajar privat denganku, baik membaca, menulis, maupun mengaji. Padahal keseharianku sudah padat: membantu orang tua menjaga toko, membaca buku, mengajar ngaji sore hingga Maghrib, dan tetap berusaha menjaga rutinitas ibadah. Tapi entah mengapa, aku tidak merasa terbebani. Sebaliknya, aku selalu bersemangat, karena di setiap pertemuan, aku juga ikut belajar banyak hal.
Kadang aku berpikir jauh ke depan, semoga kelak ketika aku memiliki anak, aku bisa mendidiknya dengan sepenuh hati sebagaimana aku belajar mendidik anak-anak orang lain hari ini. Dari dusun kecil, ke remaja masjid, ke panti asuhan, ke ruang kelas PPL, hingga kini bersiap merantau sebagai guru PPPK, aku menyadari satu hal: mengajar adalah perjalanan seumur hidup. Ia bukan hanya soal memberi ilmu, melainkan juga menebar empati, menanamkan harapan, dan membangun karakter. Selama aku masih diberi kesempatan untuk berbagi ilmu, di situlah aku percaya ada ladang pahala, cinta, dan cahaya. 🌿

Komentar
Posting Komentar