Bulan di Antara Syukur, Jeda, dan Penantian
Oktober ini terasa seperti lorong panjang yang sunyi. Ada hari-hari ketika aku begitu gembira membayangkan babak baru sebagai guru PPPK, tetapi ada pula hari-hari ketika hati terasa mengambang, antara yakin dan ragu, antara kuat dan ingin menyerah saja pada penantian yang tak kunjung berakhir. Rasanya seperti berdiri di batas dua musim: satu sisi berbunga, sisi lainnya berangin dingin.
Namun ada satu hal yang diam-diam menghadirkan ketenangan dalam hati:
aku masih bisa berada di rumah.
Masih bisa bangun dan mendengar suara orang tuaku di pagi hari.
Masih bisa melihat langit kampung yang sederhana.
Masih bisa mengajar anak-anak mengaji setiap sore.
Masih bisa pulang ke tempat di mana hatiku tumbuh.
Di sela penantian yang melelahkan, aku justru menemukan ruang kecil untuk bernapas. Ada rasa senang karena aku tidak harus tergesa-gesa berkemas, tidak harus cepat-cepat pergi meninggalkan rumah dan kampung halaman. Mungkin inilah cara Allah memberiku waktu tambahan untuk menikmati masa-masa yang nantinya akan kurindu—waktu bersama keluarga, rutinitas kecil yang sederhana, dan hari-hari di tanah kelahiran.
Meski begitu, detak hati tetap tak bisa membohongi. Setiap hari aku menunggu kabar pelantikan yang tak kunjung tampak hilalnya. Ada detik-detik sunyi ketika aku bertanya pada diri sendiri, “Kapan sebenarnya babak baru itu dimulai?” Ada malam-malam yang membuatku berdoa lebih lama, dan siang-siang yang kuhabiskan sibuk agar tidak terlalu sering mengecek kabar.
Tetapi di tengah rasa campur aduk itu, Allah menghadirkan banyak hal yang membuatku bertahan: amanah mengajar privat, membantu orang tua di toko, mengaji bersama anak-anak sore hingga Maghrib, membaca buku, dan segala percakapan kecil yang membuatku merasa hidup. Momen-momen sederhana itulah yang perlahan membuatku mengerti: jeda juga bagian dari perjalanan.
Mungkin Oktober bukan tentang menunggu semata.
Mungkin ia adalah bulan yang mengajarkanku untuk menikmati rumah sebelum aku benar-benar pergi jauh.
Untuk mengumpulkan bekal rasa, sebelum mengumpulkan bekal keberanian.
Jika nanti hari pelantikan itu tiba, aku ingin mengenangnya sebagai buah dari perjalanan panjang ini—perjalanan yang penuh syukur, tawa kecil, air mata sesekali, dan penantian yang mendewasakan. Untuk sekarang, aku hanya ingin memegang satu hal:
Bahwa tidak semua penundaan adalah tanda keterlambatan. Kadang ia adalah cara Allah memberi waktu untuk pulang lebih lama, mencintai lebih dalam, dan merelakan lebih perlahan.

Komentar
Posting Komentar