Bulan yang Menjadi Gerbang Banyak Cerita

November ternyata bukan hanya tentang pelantikan.

Ia juga tentang perjalanan-perjalanan kecil setelahnya—yang diam-diam membentuk ketangguhan baru dalam diriku.

Setelah penerimaan SK, aku tidak langsung kembali ke kampung halaman. Ada berkas yang harus diurus, tanda tangan yang harus dipenuhi, dan proses administratif yang tak bisa ditinggalkan begitu saja. Dua pekan penuh aku menetap di Kota Parigi. Dua pekan yang awalnya terasa asing, tapi lama-lama menjadi ruang yang mengajarkanku banyak hal.

Hari-hari di Parigi adalah hari-hari penuh adaptasi.
Bangun pagi di kamar kos kecil, berjalan ke kantor dinas dengan udara yang masih dingin, menunggu antrean panjang, lalu kembali lagi ke kos dengan badan letih. Tapi entah kenapa, dalam letih itu, aku selalu menemukan rasa syukur. Karena setiap harinya, Allah memudahkan langkah-langkahku dengan cara yang tak terduga.

Ada saja teman seperjuangan yang tiba-tiba muncul—entah bertemu di kantor, di mobil travel, di ruang tunggu, bahkan di depan indekos. Mereka yang sebelumnya tidak kukenal, kini menjadi orang-orang yang tertawa bersamaku, makan bersama, berbagi cerita, dan saling menyemangati. Rasanya seperti Allah sengaja menyisipkan penolong di setiap sudut perjalanan. Aku tidak pernah benar-benar sendiri.

Setelah semua berkas selesai, perjalanan berikutnya menanti:
enam jam menuju Penempatan Bomban.
Perjalanan darat yang panjang, berkelok, dan melewati hutan serta bukit yang membuatku merenung lebih lama dari biasanya. Ada rasa deg-degan, ada lelah, ada penasaran, tetapi juga ada ketenangan yang tumbuh di sepanjang jalan.

Di tengah hamparan jalan yang sepi dan hutan yang luas, aku menyadari betapa perjalanan ini bukan hanya memindahkan tubuhku ke tempat tugas, tetapi juga memindahkan hatiku ke fase hidup yang baru.
Dan lagi-lagi, Allah mengirimkan teman seperjuangan. Ada yang satu mobil denganku, ada yang kutemui saat istirahat makan, dan ada yang nantinya menjadi teman tinggal di kos atau rekan kerja. Semua hadir tepat waktu—tidak terlalu cepat, tidak pula terlambat.

Setibanya di Bomban, aku menatap sekeliling: tempat yang sunyi, jauh dari hiruk pikuk kota, tetapi justru memberikan ruang untuk bertumbuh. Rasanya seperti menyadari bahwa perjalanan panjang November ini adalah jembatan menuju hidup yang benar-benar baru.

November mengajarkanku bahwa hidup tidak pernah berjalan sendirian.
Meski terkadang aku merasa menanggung semuanya sendiri, di setiap tikungan perjalanan selalu ada seseorang yang Allah hadirkan untuk menolong, menemani, atau setidaknya membuatku merasa tidak sendirian.

Dua pekan di Parigi.
Enam jam menuju Bomban.
Pertemuan dengan orang-orang baru.
Perpisahan dengan zona nyaman.
Dan keberanian yang tiba-tiba tumbuh begitu saja.

Semua itu membuat November menjadi bulan yang penuh cerita—bulan ketika aku belajar berdiri lebih tegak, berjalan lebih jauh, dan percaya bahwa apa pun yang Allah atur, selalu datang dengan cara yang paling tepat.

Komentar

Postingan Populer