Ketika Pelantikan Datang Mendadak, dan Aku Belajar Melangkah Sendiri
November datang tanpa aba-aba. Hari-hariku masih berjalan biasa: mengajar ngaji sore, membantu menjaga toko kecil orang tua, dan menikmati sisa-sisa waktu di kampung halaman. Lalu tiba-tiba, seperti petir yang jatuh diam-diam, kabar itu muncul: jadwal pelantikan resmi diumumkan.
Sejenak aku hanya terpaku.
Ini kabar yang kutunggu berbulan-bulan, tetapi ketika benar-benar tiba, rasanya justru menggetarkan seluruh isi dada—antara syukur, lega, panik, dan tidak percaya, semuanya bertemu dalam satu hembusan napas.
Awalnya aku membayangkan akan berangkat bersama keluarga. Dalam hatiku, aku ingin mereka ada di sisiku, menjadi saksi langkah baruku sebagai guru PPPK. Aku ingin perjalanan itu menjadi kenangan manis—diselingi tawa, cerita, dan rasa bahagia bersama. Tapi realitas tak selalu mengikuti skenario hati.
Setelah beberapa hari mempertimbangkan, aku mulai sadar sesuatu:
perjalanan jauh itu akan sangat melelahkan bagi orang tuaku.
Aku takut membuat mama cepat capek, takut membuat bapak khawatir, takut perjalanan menjadi beban hanya demi memenuhi keinginanku untuk ditemani.
Dan mungkin, di sinilah aku belajar satu hal penting:
mencintai keluarga kadang berarti tidak mengajak mereka pergi.
Maka aku mengambil keputusan yang membuat dadaku sesak tapi juga lega:
aku berangkat sendiri.
Dengan koper kecil, doa besar, dan hati yang mencoba tenang, aku melangkah ke bandara. Perjalanan naik pesawat itu terasa berbeda—campuran antara dewasa yang tiba-tiba, dan anak kecil dalam diri yang masih ingin menoleh ke belakang, memastikan semuanya baik-baik saja. Di pesawat itulah aku pertama kali bertemu teman-teman seperjuangan baru. Kami saling bertukar cerita singkat—asal daerah, tempat tugas, rasa deg-degan, dan harapan masing-masing. Aneh, tapi menenangkan. Orang-orang yang baru kukenal itu seolah menjadi keluarga sementara di tengah perjalanan yang asing.
Setibanya di Palu, perjalanan belum selesai.
Masih ada rute darat sekitar dua jam menuju Kota Parigi. Jalanannya panjang, gelap di beberapa titik, tetapi entah mengapa terasa hangat—mungkin karena aku mulai terbiasa dengan rasa “sendiri” yang ternyata tidak semenakutkan itu. Setiap kilometer yang terlewati, aku merasa seperti sedang meninggalkan versi lamaku yang penuh ragu, dan perlahan berubah menjadi seseorang yang lebih berani untuk melangkah.
Tiba di Parigi sudah hampir larut. Dari sana aku menuju tempat kos yang sebelumnya hanya kukenal dari percakapan singkat. Dan benar saja—aku disambut oleh wajah baru yang kemudian berubah menjadi teman tinggal. Rumah kos itu adalah tempat asing yang mendadak harus kupanggil “rumah”, tapi ternyata penuh kehangatan kecil yang menghibur hati. Kami saling berbagi cerita, saling menolong, dan saling menguatkan tanpa perlu banyak kata—sebuah pertemuan yang tidak pernah kurencanakan, tetapi aku syukuri.
Pelantikan esoknya terasa seperti babak baru yang resmi dibuka—bukan hanya menjadi ASN, tetapi juga menjadi versi diriku yang lebih dewasa. Momen itu mengajarkanku bahwa rencana hidup bisa berubah dalam sekejap, tetapi selalu dengan hikmah yang tidak pernah salah arah.
November memberiku pelajaran bahwa keberanian bukan berarti tidak takut.
Keberanian adalah tetap melangkah meski hati gemetar.
Keberanian adalah berangkat sendiri, tapi membawa doa keluarga sepanjang perjalanan.
Keberanian adalah membuka pintu kehidupan baru, meski belum tahu apa yang menanti di baliknya.
Dan di antara semua perubahan itu, aku bersyukur—karena setiap langkah, setiap orang baru yang kutemui, setiap jalan panjang Palu–Parigi yang kulalui, dan setiap malam pertama di kos baru, semuanya menjadi bagian dari cerita yang kelak akan kusyukuri seumur hidup.

Komentar
Posting Komentar