Kepekaan dan Rasa Tanggung Jawab
"Tidak semua yang dianggap wajar memang benar adanya. Kadang, kewajaran itu hanyalah hasil dari banyaknya yang terbiasa, bukan dari kebenaran yang semestinya."
— Aprilia Dwi Yustika
Aku risau. Sungguh risau.
Semakin dewasa, semakin banyak hal yang terasa ganjil namun dibungkus rapi sebagai kewajaran. Hidup seperti dipenuhi pernak-pernik yang tampak indah, tapi menyimpan tanda tanya besar. Semakin dikejar, justru terasa menjauh. Namun saat diam, pikiran justru semakin bising dengan gumaman yang tak bisa didiamkan.
Sejak kecil, dunia telah dikenalkan kepadaku dalam warna-warna putih yang bersih dan tertata. Sosok yang mendidikku begitu apik merangkai kebenaran, hingga tak ada ruang untuk mempertanyakan hitam. Tanpa sadar, alam bawah sadarku pun menganggap putih sebagai satu-satunya kebenaran mutlak.
Namun waktu tak bisa dihindari. Usia membawaku pada fase yang memaksaku melihat dunia dari sudut pandang yang lebih luas—dan jujur saja, itu mengguncangkan. Kupikir semua yang terjadi kini tak wajar, tak biasa. Tapi nyatanya, banyak orang menganggapnya lumrah. Aku jadi tertegun. Bagaimana bisa hal-hal yang ganjil dianggap biasa, dan hal-hal yang biasa justru mulai ditertawakan?
Di tengah kegelisahan ini, aku menyaksikan fenomena yang mengusik:
Begitu banyak manusia yang berlomba-lomba mengemban amanah, namun tak benar-benar mampu menjaganya.
Banyak pula yang lihai merebut hati pemberi kepercayaan, tapi tak lihai menjalankannya.
Begitu mudahnya tanggung jawab dijadikan simbol kekuasaan, bukan sebagai wujud pengabdian.
Aku heran. Terkejut. Bahkan hati pun seolah tercekik.
Betapa sering manusia begitu rakus mengejar yang belum tentu jadi miliknya, namun lalai memelihara apa yang sudah ada dalam genggamannya.
Fase ini, meski terasa berat, justru membuka satu pemahaman:
Kepekaan bukan hanya tentang rasa, tapi tentang kesanggupan membaca realitas dengan jujur.
Dan tanggung jawab, bukan hanya soal menerima kepercayaan, tapi menjaga agar kepercayaan itu tidak hancur di tengah jalan.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat kecil, bahwa di dunia yang terus berubah, kita perlu hati yang tetap jernih dan sadar.
Jangan biarkan kebiasaan menumpulkan kepekaan.
Dan jangan biarkan kekuasaan membunuh rasa tanggung jawab.

Komentar
Posting Komentar