Lakukan atau Pikirkan?
"Nyatanya, aksi jauh lebih membawa kebahagiaan dibanding pikiran yang senantiasa bekerja."
Beberapa waktu lalu, saya mengalami pertemuan kecil yang memberi pelajaran besar. Kala itu saya berada di ruang tunggu sebuah rumah sakit. Di sana, saya berkenalan dengan seseorang yang tampak kelelahan—bukan karena aktivitas fisik, tapi karena sesuatu yang lebih dalam.
Ia berkata, “Saya sudah berhari-hari merasa nggak enak badan, capek terus, lemas, kayak nggak punya energi.” Sekilas, keluhannya terdengar seperti masalah fisik biasa. Tapi ternyata, hasil konsultasi dengan dokter membalikkan semua asumsi.
Bu dokter yang memeriksanya berkata dengan sangat tenang namun menohok, “Secara fisik, Anda baik-baik saja. Tidak ada yang bermasalah. Sepertinya justru Anda terlalu banyak mikir. Inilah penyakit remaja zaman sekarang—dikit-dikit mikir, galau, begadang dengan pikirannya sendiri. Sudahlah, kalau punya masalah hadapi aja. Dipikirin aja nggak bakal ngubah apa-apa. Coba deh langsung ditindakin. Insyaallah, hidup bakal terasa jauh lebih ringan.” Ucapan itu diakhiri dengan senyum kecil yang penuh pengertian.
Masyaallah. Saat mendengar itu, saya benar-benar tertegun. Ada kejujuran sederhana dalam kalimat dokter yang terasa begitu menyentuh dan menyadarkan.
Tak lama setelahnya, saya melihat perubahan mencolok pada pasien tadi. Ia keluar dari ruangan dengan wajah yang berbeda—lebih cerah, lebih ringan. Ia menoleh ke arah saya dan berkata, “Kayaknya bener deh kata Bu dokter.” Saya hanya membalas dengan senyuman, namun dalam hati saya sangat tersentuh. Bahkan hanya dengan menyadari bahwa dirinya "hanya terlalu banyak berpikir", tubuhnya terasa lebih lega. Seolah bebannya berkurang, padahal tidak ada satu pun obat yang diminum.
Dari kejadian sederhana itu, saya makin sadar: terlalu banyak berpikir, apalagi tanpa arah dan tanpa tindakan, bisa menjadi beban yang melemahkan. Pikiran memang alat luar biasa, tapi ia bisa menjadi penjara ketika digunakan tanpa keseimbangan. Kita sering terlalu larut dalam perencanaan, dalam kekhawatiran, dalam kemungkinan "bagaimana kalau"—hingga lupa satu hal penting: untuk bergerak.
Terkadang, kita tidak butuh solusi yang rumit. Kita hanya perlu mulai melakukan.
Mulai melangkah. Mulai menyelesaikan apa yang tertunda. Mulai mengurai masalah, bukan hanya membayangkannya di kepala.
Jadi, hikmahnya apa?
Stay positive thinking, tentu. Tapi jangan sampai berpikir jadi satu-satunya aktivitas kita. Kita semua punya masalah. Kita semua pernah gelisah. Tapi kalau hanya dipikirkan terus tanpa tindakan, ya percuma juga, kan?
Mulailah meski ragu. Lakukan meski pelan. Karena sering kali kebahagiaan itu datang bukan dari memikirkan cara hidup yang sempurna, tapi dari keberanian untuk mulai hidup dengan sederhana.
✨ Karena pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang kita pikirkan—tapi seberapa banyak yang kita lakukan dari apa yang kita yakini.

Komentar
Posting Komentar