Riuhnya Pikiran Memikirkan Prioritas


Kadang, hari belum juga dimulai, tapi kepala sudah penuh. Pikiran berseliweran ke sana kemari, tak tahu harus memulai dari mana. Ada begitu banyak hal yang ingin dikerjakan, semuanya terlihat penting, semuanya terasa mendesak. Namun kenyataannya, tidak semuanya bisa dilakukan dalam satu waktu.

Inilah riuhnya pikiran—saat kita mencoba menjadi segalanya, di waktu yang sama. Kita ingin jadi pribadi yang produktif, bertanggung jawab, baik untuk orang lain, sekaligus tidak mengabaikan diri sendiri. Tapi justru karena ingin semuanya, kita kehilangan arah.

Rasanya banyak di antara kita, yang masih sering ribut dengan pikirannya sendiri. Ketika hati menginginkan takwa, tapi pikiran masih tertuju kepada segala ambisi dunia. 

Lalu syukurnya, tak lama setelah itu, kita pun tersadarkan kembali. Hingga bentrok pikiran pun kembali terjadi. 

Ya, berada di posisi seperti itu kita akan merenung. Mencoba untuk mencari sela kebisingan untuk diam sejenak dalam kasat mata. Pikiran mulai bercengkrama dengan hati, lalu menanyakan kenapa oh mengapa.(?)

🧠Hei dunia, kamu cuman sementara. Sadar ya, kamu persinggahan. Kenapa banyak banget rintangannya (?) Kenapa gak habis-habis ujiannya (?) Kenapa begini? Kenapa begitu?

Kelar tantangan satu, ada lagi tantangan lain. Setelah keinginan satu terwujud, timbul keinginan lainnya lagi. Hummm manusia memang aneh, tidak ada waktu yang mendeteksi kepuasannya dapat tercukupkan. Terlebih tentang hal duniawi, but hakikatnya memang seperti itu. "Dunia selalu terlihat menarik sebelum dimiliki, dan biasa saja setelah dimiliki".

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Mati-matian dengan dunia, sampai luput bekal akhirat. Apa itu masih pantas menjadi acuan kita?

Come on, get up!

Tidak menjadikan dunia sebagai acuan, bukan berarti melalaikannya. Tapi, mulailah memacu diri untuk lebih mementingkan yang lebih pantas diperjuangkan.

Apa kita akan lebih memilih menjaga anak tetangga, dibanding anak kita? Ibaratnya anak tetangga adalah dunia yang akan segera diambil kembali oleh Ibunya. Beda halnya, dengan anak kita yang akan abadi berstatus keluarga dengan kita.Tentu statusnya berbeda dan kita tentunya tau mana yang harus kita prioritaskan demi kebahagiaan yang abadi.🤍

Anyway

Keresahan ini wajar. Setiap orang pasti pernah mengalaminya. Tapi justru di tengah keruwetan itulah kita dituntut untuk jernih—menyaring, memilah, dan menata ulang. Pikiran yang sibuk bukan tanda kita gagal, melainkan tanda bahwa kita sedang tumbuh, sedang belajar bertanggung jawab atas hidup kita sendiri.

Langkah pertama yang bisa kita ambil adalah menyadari bahwa tidak semua hal perlu dijawab sekaligus. Ada hal-hal yang cukup disimpan dulu, menunggu giliran. Ada pula yang perlu segera dikerjakan karena itu menyangkut masa depan atau kebahagiaan jiwa. Menentukan skala prioritas bukan tentang siapa yang paling sibuk, tapi siapa yang paling tahu apa yang ia butuhkan saat ini.

Maka dari itu, tak perlu terus membandingkan pencapaianmu dengan orang lain. Fokuslah pada apa yang ingin kamu tuju. Hidup bukan perlombaan siapa yang selesai duluan, melainkan tentang siapa yang lebih tenang dan tulus menjalaninya.

Tenangkan riuh itu, peluk satu demi satu.
Lalu melangkahlah perlahan, dengan hati yang utuh. 🕊️


Komentar

Postingan Populer