Sibuk itu Palsu, Semua Tergantung Prioritas!


Kita sering sekali berdalih “sibuk” setiap kali ada seruan kebaikan. Sibuk belajar, sibuk bekerja, sibuk urusan rumah, sibuk mengejar target, sibuk membangun mimpi. Sampai-sampai, kata sibuk itu jadi alasan yang paling manjur untuk menunda-nunda ibadah.

Padahal, kalau kita mau jujur, “sibuk” itu sebenarnya palsu. Karena setiap orang diberi jatah waktu yang sama, 24 jam dalam sehari. Bedanya hanyalah pada cara kita mengatur dan menentukan prioritas.

Salafus shalih dulu juga sibuk. Mereka berdagang, mengajar, berperang, membangun keluarga, sama seperti kita. Tetapi yang membedakan adalah mereka menjadikan Allah sebagai prioritas utama. Waktu mereka tetap penuh dengan salat, dzikir, dan membaca Qur’an. Bahkan dalam kesibukan duniawi pun hati mereka tetap bersama Allah.

Sibuk itu bukan alasan, melainkan cermin dari apa yang kita anggap penting. Kalau kita bisa meluangkan waktu berjam-jam untuk scrolling media sosial, berarti kita memang menaruh prioritas di sana. Kalau kita bisa lembur demi pekerjaan, tapi tidak sanggup menambah salat sunnah dua rakaat, berarti dunia memang lebih kita utamakan daripada akhirat.

Ahmad Rifa’i Rif’an dalam bukunya “Tuhan, Maaf, Kami Sedang Sibuk” menulis bahwa sering kali kita membuat Tuhan seperti harus “mengantri” untuk mendapat perhatian kita. Betapa ironis, Sang Pencipta yang memberi kita rezeki setiap hari, justru kita balas dengan sisa-sisa waktu yang tersisih.

Coba kita bandingkan sikap kita ketika dipanggil atasan dan ketika dipanggil Allah lewat adzan. Saat bos memanggil, kita buru-buru datang. Tapi ketika adzan berkumandang, kita bisa dengan enteng berkata, “sebentar deh.” Padahal bos hanyalah makhluk, sementara Allah adalah Rabb semesta alam.

Imam Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari hilang, maka hilang pula sebagian darimu.” Setiap menit yang kita habiskan, sebenarnya sedang mengikis usia kita. Maka pertanyaannya: sudahkah setiap menit itu mendekatkan kita kepada Allah, atau justru menjauhkan?

Kesibukan duniawi sering membuat kita merasa seakan-akan urusan akhirat bisa ditunda. Padahal, ajal tidak pernah menunggu jadwal kita longgar. Malaikat Izrail tidak mengenal istilah “reschedule”. Bisa jadi saat kita sibuk mengatur rencana, Allah sudah menetapkan garis akhir hidup kita.

Karena itu, jangan sampai “sibuk” menjadi tameng yang menipu kita. Sibuk hanyalah pilihan. Dan pilihan itu selalu bergantung pada prioritas. Kalau Allah benar-benar menjadi tujuan utama, kita pasti akan menyediakan waktu terbaik untuk-Nya, bukan sekadar sisa.

Maka mari belajar dari orang-orang salih, bagaimana mereka bisa produktif di dunia tanpa melupakan akhirat. Karena sejatinya, dunia adalah jalan, sementara akhirat adalah tujuan. Kita harus berhenti berkata, “Aku sibuk,” dan mulai jujur berkata, “Aku sedang memprioritaskan apa?”


Komentar

Postingan Populer