Usia 20an⚡
Di usia 20-an, kita seperti sedang mendaki bukit berkabut—melangkah cepat, tapi sering tak benar-benar tahu ke mana arah pasti. Di sinilah banyak dari kita terpeleset, terjebak dalam gegap gempita pencapaian semu. Dunia terlalu ramai dengan definisi sukses yang dangkal. Kita pun larut, mengejar apa yang terlihat, bukan apa yang bermakna.
Di usia 20an, kita mudah silau tergoda untuk mengejar hal-hal yang mudah terlihat: harta, tahta, prestasi, ketenaran dan lainnya. Padahal, seyogyanya kita mengejar apa yang selamanya akan terpahat: dampak sosial, role model, dan ilmu. Kita seringkali buram tentang apa yang dikejar, tak jarang kita berhasrat besar mengejar hal yang tidak mendasar.
Sepanjang dekade ini saya belajar, bahwa sedini mungkin kita harus mengingatkan diri untuk tidak mengejar kesenangan belaka (pleasure) yang hanya akan menjadi dahaga yang tiada habisnya. Tantangan terbesar bagi kita adalah sejelas mungkin mendefinisikan diri, secerah mungkin mengetahui apa yang menjadi misi, dan setegas mungkin membedakan apa yang dibutuhkan dan apa yang diingini.
Di titik akhir dari itu, ada kebahagiaan (fulfillment) yang bisa kita temukan, dari besarnya energi dan konsentrasi untuk mengejar manfaat yang bisa kita hasilkan. To be who you are, to do what we love, and to have hat we need.:)
#Be_fighting
Karena sejatinya, di usia 20-an ini bukan tentang siapa yang lebih dulu sampai di puncak, tapi siapa yang tak lupa bertanya: “Untuk apa aku mendaki?”
Semoga kita tumbuh bukan hanya jadi manusia sibuk, tapi juga manusia sadar. Yang tahu kapan harus berhenti, dan tahu apa yang layak diperjuangkan.

Komentar
Posting Komentar