Kepekaan yang Memudar?
Kurang kegiatan positif dan waktu luang.
Betapa banyak orang mengungkap dirinya sibuk, tak punya waktu luang untuk orang lain.
Betapa miris mata dan hati ini melihat fenomena empati yang mulai tersungkur.
Benar ya, memulai sesuatu itu tidak mudah.
Tapi, memulai dengan sendirian nyatanya jauh lebih sulit lagi. Kepekaan akan sesuatu membuat diri sering bertanya-tanya. Apakah ini murni karena empati, atau hanya ingin mencari simpati?
Sesuatu yang telah dimulai bersama-sama, kini harus dijalankan sendiri. Sesuatu yang diawali dengan berbagai pengorbanan, kini mulai terbayang akan ada yang menjadi korban. Ah, kesal rasanya harus memendam sendiri rasa kepedihan mereka.
Bagaimana mungkin jarak bisa memutus segala yang telah sama-sama kita mulai?
Bukankah ini hanya perkara datang dan pergi?
Bukankah kita pergi untuk mereka?
Kini tuturku tak lagi bisa berucap, jariku tak lagi bisa mengetik. Hal yang sebenarnya terusik dalam hati, harus berusaha diredam oleh keadaan. Benar, ini tentang skala prioritas.
Semoga apa yang ada dalam hati bisa sampai ke hati.
Kurang kegiatan positif dan waktu luang, membuat banyak orang lupa bahwa hidup bukan hanya soal pencapaian, tapi juga soal kehadiran.
Seringkali kita terlalu sibuk mengejar yang jauh, sampai tak sadar telah meninggalkan yang dekat. Yang dulu jadi tempat pulang, perlahan berubah menjadi kenangan tanpa kepulangan.
Namun aku tahu, tak semua pergi adalah melupakan. Tak semua diam adalah tidak peduli. Tapi bukankah peduli yang tidak disampaikan hanya akan jadi rahasia yang menyakitkan?
Jika nanti waktunya tiba, semoga ada ruang untuk duduk bersama, membicarakan rindu yang sempat tertunda.

Komentar
Posting Komentar