Hampir Tersesat


"Anda tahu di mana jalan itu?"
Pertanyaan yang sempat menghentikan langkahku dalam larutnya tidur.

Kala itu aku mendapati diriku berjalan tanpa arah. Seolah berada di tempat asing—entah dunia nyata, entah alam bawah sadar—aku hanya tahu satu hal: aku sendiri.
Berjuang sendirian, menapaki lantai-lantai yang tampak begitu panjang dan tak berujung. Mencari keberadaan orang-orang yang kukenali. Namun, tak ada satu pun manusia yang kutemukan. Semua sunyi. Bahkan gema langkahku terasa terlalu keras di telinga.

Ke kanan dan ke kiri, terus berjalan. Kadang menaiki anak tangga, kadang menuruninya tanpa tahu apa yang ada di ujung sana. Semakin lama, langkahku semakin berat. Aku tidak tahu lagi apa yang kucari. Manusia? Keramaian? Atau sebenarnya, jiwaku sendiri?

Setelah lelah berputar dan menyusuri tempat itu, aku hanya bisa terduduk. Diam, berpasrah.
Mulai timbul tanya dalam benak:
Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa aku sendiri di tempat yang tampak megah dan terang benderang ini?

Seingatku, semut akan mendekati gula, begitu pula manusia akan mendekati gemerlap dunia. Jika aku sedang berada di tempat yang mewah dan menjanjikan, bukankah seharusnya aku tidak sendiri? Bukankah seharusnya banyak manusia turut serta?
Namun, ke manakah mereka semua pergi?

Dalam jeda itu, perlahan aku mulai menyadari sesuatu.
Barangkali ini bukan tentang tempat, bukan pula tentang sepinya suasana. Mungkin ini adalah cermin, pantulan dari hatiku yang sesungguhnya.
Yang kosong.
Yang kehilangan arah.
Yang selama ini tampak berjalan, tapi tak tahu ke mana.

Maka aku pun bangkit, meski langkahku gemetar.
Bangkit, bukan lagi untuk mencari manusia,
tapi untuk mencari arah.
Mencari makna.
Mencari Tuhan.

Aku mencoba berteriak, mengucap salam.
Bukan agar ada yang menjawab, tapi sebagai isyarat bahwa aku masih berharap.
Aku masih ingin menemukan jalan pulang.

Lalu, entah dari mana, nampak dua sosok yang menutup wajahnya.
Keduanya berdiri menjaga sebuah pintu yang besar dan sunyi.
Tak berkata sepatah kata pun.
Namun, dari sorot mata mereka yang tersembunyi, aku tahu:
aku sedang diuji.

Seketika itu juga, aku terbangun.
Jantungku berdegup kencang.
Namun hatiku terasa lebih ringan.

Apakah itu hanya mimpi?
Ataukah sebenarnya, itu adalah peringatan?


Komentar

Postingan Populer