Apa Aku Salah Memintanya Menunggu?
Kadang dalam hidup, seseorang datang tak terduga. Ia tidak hadir dengan gebyar kisah romantis seperti dalam film atau novel. Ia datang sederhana, dengan niat baik yang terasa tulus. Ia tidak banyak janji, tapi kehadirannya memberi rasa aman. Ia tidak banyak kata, tapi dari sikapnya, kamu tahu… dia serius.
Tapi aku tidak langsung bisa menyambutnya.
Bukan karena dia kurang baik. Justru sebaliknya—ia terlalu baik. Dan aku, belum merasa pantas.
Aku tahu, tidak semua orang bisa datang dengan ketulusan seperti itu. Tapi aku juga tahu, menerima seseorang bukan hanya tentang siapa yang lebih dulu datang. Bukan hanya tentang siapa yang memberi perhatian paling banyak. Tapi tentang kesiapan dua hati untuk berjalan beriringan, saling menanggung beban kehidupan yang sebenarnya baru akan dimulai setelah kata "ya" terucap.
Dan di titik itu… aku belum sampai.
Aku sedang dalam proses mencintai hidupku. Sedang menyusun satu per satu impian masa kecilku. Aku ingin mewujudkan janji yang pernah kubuat dalam diam—bahwa aku akan berdiri di atas kakiku sendiri, bahwa aku akan membahagiakan kedua orang tuaku yang telah bertahun-tahun menjadi tembok kuat di setiap jatuh bangunku. Aku ingin, sebelum aku menjadi milik seseorang, aku telah selesai menjadi diriku sendiri.
Ada begitu banyak hal yang ingin aku kejar. Gelar sarjana sudah, lalu gelar profesi—dan mungkin nanti, pendidikan lanjut. Aku ingin mengajar, menjadi guru yang benar-benar bisa menginspirasi dan berkontribusi. Aku ingin membeli hadiah kecil untuk ayah dan ibu dari hasil jerih payahku sendiri. Aku ingin membuat mereka menangis bahagia, bukan karena lelah memikirkan anaknya yang belum selesai dengan hidupnya.
Maka ketika ia datang dan berkata, “Aku ingin kamu menjadi pendampingku,” aku terdiam.
Rasanya egois untuk mengatakan belum siap, padahal kesempatan itu ada di depan mata. Tapi lebih egois lagi jika aku menerima, hanya karena tidak enak menolak. Lebih menyakitkan lagi jika aku melangkah tanpa hati yang penuh. Karena menikah bukan soal siapa yang cepat, tapi siapa yang tepat. Dan ketepatan itu datang bersamaan dengan kesiapan.
Aku tahu, meminta seseorang menunggu adalah hal yang sulit. Tidak ada yang suka digantung dalam ketidakpastian. Dan aku tidak ingin memberi harapan yang tak bisa kutepati. Tapi aku juga tidak ingin menutup pintu dengan kasar. Maka yang bisa kulakukan hanya satu: berkata jujur. Bahwa saat ini, aku belum siap. Bukan karena dia tidak layak, tapi karena aku belum selesai dengan mimpiku.
Aku ingin dia tahu, bahwa pilihanku bukan karena tak menghargainya. Tapi justru karena aku terlalu menghargai keseriusannya, hingga tak ingin menjadikannya pengisi waktu kosong. Aku ingin bersamanya jika nanti aku sudah selesai dengan proses ini—saat aku tak lagi menuntut banyak dari dunia, dan siap berjalan bersama, searah, menuju kehidupan yang lebih hakiki.
Namun aku juga paham, menunggu itu pilihan. Tidak semua orang sanggup. Dan jika pada akhirnya ia pergi, aku akan mengerti. Aku tidak ingin membuatnya terpenjara dalam ketidakjelasan. Aku hanya ingin bersikap adil—pada hatiku, dan pada hatinya.
Dan jika kamu bertanya padaku, “Apa kamu menyesal telah menyuruhnya menunggu?”—jawabannya tidak. Karena aku percaya, setiap orang punya waktunya masing-masing. Aku percaya, bahwa memprioritaskan diri dan orang tuaku bukan bentuk penolakan terhadap cinta, tapi justru bentuk cinta yang matang.
Aku ingin, ketika nanti aku mencintai seseorang, aku melakukannya dengan penuh. Dengan ketulusan, kesiapan, dan tanpa penyesalan.
Sebab cinta, bukan hanya tentang jatuh hati. Tapi tentang bangun bersama, menyusun hidup dari dasar yang kuat. Dan aku sedang membangun dasar itu—dari impianku, dari doaku, dari pengabdian pada ayah dan ibuku.
Maka untuk kamu yang pernah kuminta menunggu, ketahuilah… aku bukan sedang menggantungmu.
Aku hanya sedang tumbuh, demi bisa mencintaimu tanpa ragu… jika kamu memang ditakdirkan untuk tinggal.

Komentar
Posting Komentar