Di Balik Kecewa, Ada Cinta yang Tak Pernah Usai

Hari ini, aku belajar sesuatu.

Bahwa tidak semua janji bisa ditepati.  
Bahwa tidak semua rencana berjalan sebagaimana harapan.  
Dan kadang, hati kita perlu siap untuk menerima itu — tanpa berhenti mencintai.

Sejak 2018 aku mendampingi anak-anak dalam belajar, menghafal, dan berjuang.  
Banyak suka duka yang telah kulewati bersama generasi demi generasi.  
Namun baru kali ini — menghadapi anak-anak Gen Alpha — aku merasa sesesak ini.  
Rupanya, mereka lebih mudah mengulang kesalahan.  
Bukan karena mereka tidak bisa, tapi karena tantangan zaman yang jauh berbeda.

**

Awalnya, santri calon munaqosyahku berjumlah 14 orang.  
Dengan semangat dan harapan, aku mendampingi mereka satu per satu.  
Namun berjalannya waktu, dengan berat hati aku harus menggugurkan 4 orang.  
Bukan karena aku tidak percaya pada mereka, tetapi kemampuan yang belum cukup serta motivasi belajar yang rendah membuatku harus mengambil keputusan sulit.

Aku berharap 10 besar yang tersisa mampu bertahan.  
Menjadi generasi yang menguatkan satu sama lain hingga hari munaqosyah tiba.

**

Beberapa hari lalu, aku bertanya kepada mereka,  
_"Kamu bisa setor hafalan di grup kan?"_  
Mereka menjawab,  
_"Iye, Insyaallah, Ustazah."_

Aku juga mengingatkan,  
_"Usahakan datang tepat waktu, ya, agar latihannya maksimal."_  
Mereka mengangguk, seolah mengiyakan.

Aku pun berharap, mereka akan menepatinya.

Namun kenyataannya, hari ini — di hari terakhir sebelum aku fokus pada ujianku sendiri — banyak yang tidak hadir, banyak setoran hafalan yang tidak terkirim.

**

Aku berusaha tidak memendam rasa.  
Dengan suara yang tetap kutahan agar lembut, aku utarakan kekecewaanku,  
_"Mungkin aku terlalu antusias.  
Mungkin aku terlalu tinggi menaruh ekspektasi pada kalian.  
Mungkin aku terlalu mendesak kalian belajar.  
Tapi percayalah, semua itu sungguh untuk kebaikan kalian."_

Aku melanjutkan,  
_"Setelah ini mungkin aku tidak bisa lagi mendampingi kalian setiap hari.  
Aku akan fokus menyelesaikan ujian.  
Bimbingan kalian akan diteruskan oleh Ustazah Nova, pembina TKA-TPA, yang kebetulan adalah kakakku sendiri."_

Suasana mendadak hening.  
Wajah-wajah kecil itu tertunduk dalam diam.

Tak lama, Salwa dan Sinar perlahan maju ke hadapanku.  
Dengan mata berkaca-kaca, mereka menatapku, lalu menunduk meminta maaf.  
Hati kecil mereka yang jujur membuat dadaku terasa sesak — antara haru dan sedih.

**

Saat sesi pamitan, ketika anak-anak bersiap pulang,  
Salwa Azkadina menangis memelukku erat.  
Tangisannya mewakili rasa takut, sedih, sekaligus rasa sayang yang mungkin selama ini tak sempat terucap.  
Dalam pelukannya, aku bisa merasakan: mereka memang masih butuh bimbingan, walau seringkali lalai.

Sepulang mereka, ponselku berdering.  
Mama Gibran menelpon dengan suara panik.  
Ternyata Gibran menangis sesampainya di rumah.  
Ia sedih dan takut kalau aku akan meninggalkannya selamanya.  
Padahal aku hanya akan pergi tiga hari — untuk fokus ujian — bukan benar-benar meninggalkan mereka.

Tak berhenti di situ.  
Grup chat yang semula sunyi kini menjadi riuh.  
Sinar, Marwah, Salwa, dan lainnya bersemangat mengirim setoran hafalan.  
Suara-suara kecil mereka memenuhi grup, seolah ingin berkata,  
_"Kami masih mau berjuang, Ustazah. Jangan tinggalkan kami."_

**

Malam ini aku merenung.  
Mungkin aku yang terlalu semangat.  
Mungkin aku yang terlalu tinggi menaruh harapan.  
Tapi aku tahu, dalam setiap usaha mendidik, selalu ada benih yang sedang berjuang tumbuh — meski belum tampak.

Mendidik adalah tentang kesabaran.  
Tentang mencintai tanpa syarat.  
Tentang mempercayai bahwa sekecil apa pun perubahan adalah sebuah kemenangan.

Hari ini aku kembali diingatkan:  
Cinta seorang guru tidak pernah benar-benar habis.  
Dan kecewa hari ini hanyalah bagian dari jalan panjang menuju doa-doa yang kelak terkabul.

Aku memilih untuk tetap mencintai mereka — walau terkadang harus menahan sesak di dada.

Karena begitulah cinta bekerja:  
Ia tetap bertahan, bahkan di tengah luka.

---

> "Hari ini aku belajar: mendidik itu mencintai, bahkan saat hati kita sesak."

Komentar

Postingan Populer