Diam yang Menenangkan, Usik yang Menguatkan


Semakin banyak yang berharap padamu, semakin berat pula yang harus kau pikul dalam diam. Ada beban yang tak kasatmata, tapi terus bergelora di kepala. Kadang bukan tentang tak mampu menjawab harapan-harapan itu, tetapi tentang bagaimana menjaga diri agar tak kehilangan arah saat terlalu banyak suara yang bergema, mengarah, dan memaksa.

Diam, bagi sebagian orang, adalah pertahanan terakhir. Tempat untuk bernapas tanpa tuntutan, ruang untuk kembali mengenal diri tanpa harus terus menjadi versi ideal di mata orang lain. Dalam diam, seseorang bisa belajar memeluk dirinya sendiri, menyusun ulang serpihan hati yang pernah retak oleh ekspektasi, dan menyiapkan langkah baru tanpa kebisingan yang menyesakkan.

Privasi menjadi pelindung. Bukan karena ingin menjauh, apalagi sombong, tetapi karena sadar bahwa tidak semua hal perlu dibagikan. Ada rasa yang ingin tetap dijaga agar tidak tercemar oleh asumsi. Ada cerita yang lebih indah jika disimpan, bukan diceritakan. Bagi sebagian jiwa yang lelah, menyendiri bukan melarikan diri, melainkan cara untuk tetap waras di tengah dunia yang terus bergerak tanpa jeda.

Namun, seperti daun yang tetap menempel di ranting, sekuat apa pun kita memilih diam, akan ada saja angin yang datang mengusik. Ada tanya yang datang tanpa permisi, ada komentar yang menilai tanpa mengenal. Bahkan ketika tak sepatah kata pun keluar dari mulutmu, akan tetap ada yang merasa berhak menafsirkan.

Tapi, bukankah hidup memang begitu? Tak semua yang datang untuk mengusik berniat merusak. Kadang, mereka hanya tak tahu bagaimana harus mendekat. Kadang, mereka hanya ingin mengerti, meski caranya terasa salah. Dan pada akhirnya, mungkin dari usik itu, lahir sesuatu yang tak terduga—sebuah keasyikan, sebuah pemahaman, atau bahkan sebuah koneksi baru yang membuat kita belajar lebih luas tentang dunia dan diri sendiri.

Jadi, jika saat ini kamu sedang dalam fase memilih diam, tak apa. Peluklah dirimu sendiri lebih erat. Jangan biarkan siapapun membuatmu merasa bersalah karena tak membuka diri. Dan jika suatu saat ada angin yang datang mengusik, semoga itu bukan badai yang menggoyahkanmu, melainkan semilir yang menghidupkan kembali keberanianmu.

Karena diam bukan tanda lemahnya suara. Ia adalah bentuk lain dari kekuatan—kekuatan untuk memilih, untuk menjaga, dan untuk tetap utuh di tengah ribuan kemungkinan yang bisa membuatmu tercerai-berai.

Komentar

Postingan Populer