Kenangan Paling Nakal di Masa TK
Hari itu, para guru sedang sibuk rapat. Suasana kelas agak longgar, dan entah kenapa jiwa organisatorku muncul begitu saja. Dengan polosnya, aku mengumpulkan semua teman TK-ku yang tinggal satu dusun. Satu per satu kuhitung, kubentuk barisan rapi di depan sekolah. Seolah kami sedang bersiap untuk parade, padahal niatku jelas: bolos rame-rame.
Dengan gaya pemimpin pasukan, aku memberi aba-aba, “Ayo pulang sekarang!” Kami pun mulai berjalan menjauh dari gerbang sekolah. Tapi baru beberapa langkah, sebuah suara familiar menghentikan langkahku. Ternyata guruku melihatku! Dengan panik, aku langsung berdiri kaku—sementara teman-temanku? Mereka semua berhasil kabur, satu pun tak tertangkap!
Iya, kamu tidak salah baca. Hanya aku yang tertangkap. Rasanya seperti pasukan perang yang meninggalkan jenderalnya sendirian di medan tempur. Lucunya lagi, aku pun ditertawakan karena terlalu heboh merancang rencana tapi tidak punya cukup akal untuk menyelamatkan diri sendiri. Mungkin memang sejak kecil aku bukan nakal, hanya terlalu percaya diri untuk jadi pemimpin bolosan.
Beberapa tahun berlalu, tapi kejadian itu tetap hidup di ingatan. Bahkan ketika bertemu dengan teman-teman masa TK-ku yang dulu ikut misi itu, kami sering tertawa terpingkal-pingkal mengenangnya. “Masih ingat waktu kamu yang ketangkap sendirian?” tanya mereka dengan geli. Aku pun hanya bisa nyengir malu sambil ikut tertawa.
Dari momen itu, aku belajar satu hal penting: karakter seseorang memang sudah bisa kelihatan sejak kecil. Aku mungkin tidak punya bakat jadi “nakal”, tapi aku punya semangat mengorganisasi yang kuat. Dan nyatanya, kenangan semacam itu justru jadi cerita paling tulus dan lucu yang akan selalu membuat masa kecil terasa hangat.

Komentar
Posting Komentar