Kosongkan Gelasmu Ketika Bertemu Orang
Ada satu nasihat lama yang tak pernah usang oleh zaman: “Kosongkan gelasmu.” Nasihat ini tidak sedang membicarakan minuman, tapi tentang sikap hati dan pikiran saat berjumpa dengan orang lain.
Dalam hidup ini, kita akan bertemu banyak orang—dari berbagai latar belakang, pengalaman, ilmu, dan pemikiran. Kadang kita merasa sudah cukup tahu, cukup paham, cukup mengerti. Tapi justru perasaan “sudah cukup” itulah yang sering jadi tembok tinggi untuk belajar lebih jauh.
Mengosongkan gelas berarti datang dengan hati yang rendah, pikiran yang terbuka, dan kemauan untuk mendengar tanpa mendahului dengan asumsi. Sebab tidak semua orang datang untuk menggurui, banyak yang hadir untuk menambah perspektif.
Kadang, seseorang yang terlihat biasa saja menyimpan hikmah hidup yang luar biasa. Tapi kalau kita sibuk membandingkan, menghakimi, atau merasa lebih unggul, maka pelajaran itu akan menguap begitu saja. Kita akan pergi tanpa membawa apa-apa, hanya karena terlalu penuh oleh kesombongan kecil dalam kepala.
Sikap ini sangat penting dalam pertemuan apa pun: saat mendengar nasihat orang tua, berdiskusi dengan teman, mengikuti ceramah, atau bahkan saat mendengarkan cerita seorang anak kecil. Setiap orang bisa jadi guru, setiap percakapan bisa jadi ruang belajar—asal kita cukup rendah hati untuk membuka diri.
Mengosongkan gelas juga bukan berarti meniadakan prinsip. Tapi itu tentang memberi ruang agar apa yang kita tahu bisa dikaji ulang, diperluas, atau bahkan diperbaiki. Karena tidak ada ilmu yang tumbuh dalam tanah yang keras dan menolak disiram.
Seringkali yang menghambat kita bukan kurangnya ilmu dari luar, tapi keengganan hati untuk menerima. Maka kosongkanlah gelasmu. Bukan karena kamu tak punya apa-apa, tapi karena kamu sadar bahwa belajar tak pernah selesai.

Komentar
Posting Komentar