Pagiku Sudah Tak Seambisius Tahun-Tahun Sebelumnya
Dulu, pagi adalah ajang adu cepat dengan waktu. Alarm berbunyi, otak langsung tersambung ke daftar target harian. Buku-buku menanti di meja belajar, jadwal kuliah atau sekolah tertera rapi di dinding kamar, dan ambisi menjadi teman tidur yang tak pernah benar-benar tidur. Tapi kini, pagiku tak seambisius itu lagi.
Rutinitas yang dulu padat kini berubah menjadi keheningan yang nyaris membingungkan. Tak ada lagi suara langkah buru-buru ke kampus, tak ada diskusi hangat di kelas, tak ada tugas yang mendesak dikejar sebelum deadline. Pola belajar, sekolah, dan kuliah—semuanya telah sampai di titik selesai.
Selesai yang tak sepenuhnya menyenangkan. Karena dari balik tumpukan sertifikat dan toga yang sempat dibanggakan, ada ruang kosong yang perlahan tumbuh. Rindu mulai mengetuk. Rindu pada rutinitas yang dulu kadang kita keluhkan. Rindu pada semangat yang dulu begitu menyala tiap pagi.
Kini, pagi datang lebih lambat. Tak lagi diburu target, tapi justru memanggil dengan pertanyaan: "Lalu, hari ini mau apa?"
Dan kadang, sesak menyelinap. Karena ternyata, yang kita rindukan bukan hanya rutinitasnya. Tapi juga rasa hidup yang menyertainya—rasa berjuang, rasa ingin tahu, rasa terus bergerak maju. Mungkin itulah yang sebenarnya bernama ambisi. Bukan sekadar ingin jadi ini dan itu, tapi keinginan untuk merasa ada di tengah denyut harian yang penuh makna.
Tapi tak apa. Mungkin pagiku kini lebih tenang, lebih pelan, namun ia sedang mencari bentuk baru. Bentuk ambisi yang lebih dewasa. Bentuk rutinitas yang tidak hanya soal tugas, tapi juga tentang arah hidup. Dan mungkin, itu awal dari perjalanan yang lebih panjang lagi.

Komentar
Posting Komentar