Tentang Menulis Buku, dan Rasa Belum Siap Itu

Orang-orang sering bilang,

“Tulis saja bukumu.”
“Mungkin sudah waktunya kau mengabadikan kisah, pikiran, atau rasamu.”
Dan aku hanya tersenyum, menunduk, menyimpan kalimat itu dalam kotak hati yang tak pernah benar-benar kubuka.

Bukannya tak ingin.
Dalam diam, aku sering membayangkan, bagaimana rasanya melihat namaku di sampul buku.
Bagaimana rasanya memegang lembar demi lembar isi pikiranku yang disusun dengan rapi, dicetak, dipegang orang lain.
Bagaimana rasanya menuliskan sesuatu yang tak hanya selesai, tapi bisa tinggal—lama.

Tapi jujur…
aku belum merasa sehebat itu.
Aku masih merasa tulisan-tulisanku terlalu sederhana.
Terlalu jujur.
Terlalu banyak “aku” dan terlalu sedikit “arti” bagi dunia.
Aku takut jika apa yang kutulis hanya akan menjadi suara kecil yang hilang di antara suara-suara besar.

Aku takut mengecewakan ekspektasi orang-orang yang percaya padaku…
dan lebih dari itu, aku takut kecewa pada diriku sendiri.

Tapi seiring waktu, aku belajar satu hal:
bahwa buku yang baik bukan ditulis oleh mereka yang paling hebat,
melainkan oleh mereka yang paling berani jujur.
Dan sejujurnya, aku punya banyak hal yang ingin kubagi—meski belum yakin siapa yang akan mengerti.

Mungkin suatu hari nanti,
ketika aku tak lagi takut pada tanggung jawab menyentuh hati orang lain,
ketika aku mulai percaya bahwa tulisanku tak harus sempurna untuk bisa bermakna,
aku akan menulis.
Bukan karena orang lain memintaku,
tapi karena aku sendiri akhirnya merasa:
ini waktunya.

Dan jika buku itu jadi,
maka itu bukan hanya tentang cerita.
Tapi tentang keberanian yang tumbuh perlahan.
Tentang perjalanan yang tak terburu-buru.
Tentang suara kecil yang akhirnya percaya diri untuk bicara.

Komentar