Terlalu Humble, Sampai Terasa Oversharing
Aku terbuka—mungkin terlalu terbuka.
Kadang aku berbagi cerita tentang rasa lelahku, tentang perjuangan yang tak semua orang minta untuk dengar.
Bukan karena ingin dikasihani, tapi karena ingin didengar.
Karena aku pikir, menjadi humble itu berarti tidak menutup-nutupi, tidak berpura-pura kuat.
Tapi ternyata…
menjadi terlalu terbuka kadang membuatku merasa terlalu terbuka obrolan di tengah keramaian.
Bukan karena aku ingin jadi pusat perhatian,
tapi karena aku selalu mencoba jujur, bahkan saat dunia lebih memilih versi yang ditutupi.
Aku terlalu humble,
sampai-sampai tidak sadar kalau aku mulai bercerita pada orang yang belum tentu mengerti.
Aku ingin dianggap hangat,
tapi justru merasa rapuh setelahnya—karena tak semua telinga benar-benar mendengar,
dan tak semua hati benar-benar peduli.
Terkadang aku pulang dari pertemuan sosial,
merenung di balik pintu kamar,
bertanya pada diri sendiri:
“Apa tadi aku bicara terlalu banyak?”
“Haruskah aku menyesal karena terlalu jujur tentang luka-lukaku?”
Tapi begitulah aku.
Aku terbentuk dari hati yang tulus dan empati yang tak bisa kutahan.
Dan jika itu disebut kelemahan,
maka biarlah aku lemah dengan cara yang manusiawi.
Karena aku lebih takut menjadi dingin daripada terlalu hangat.
Lebih takut kehilangan rasa, daripada menjaga jarak demi terlihat kuat.
Dan kalau suatu hari aku memilih diam,
itu bukan karena aku berubah…
tapi karena aku belajar: tidak semua ruang layak diisi cerita.
Dan tidak semua “humble” harus dibayar dengan rasa kehilangan arah.

Komentar
Posting Komentar