Adikku, Partner Jalan Favorit Kedua Setelah Abah
Ada hal-hal yang tak bisa dibeli, dan salah satunya adalah kebersamaan yang tulus. Bagi aku, salah satu bentuk kebersamaan paling berharga adalah ketika berkendara berdua dengan adikku, di atas motor yang melaju di antara hiruk pikuk kehidupan.
Di jalanan, angin yang menerpa wajah seolah membawa ruang bagi segala obrolan. Di atas motor itu, tak ada layar ponsel, tak ada gangguan—hanya aku, adikku, dan percakapan yang mengalir begitu saja. Kami sering membicarakan masa depan, mimpi, ketakutan, hingga hal-hal kecil yang mencerminkan bagaimana kami perlahan tumbuh dan belajar menjadi dewasa.
Obrolan kami bukan selalu tentang hal besar, tapi selalu punya makna. Kadang kami tertawa karena hal sepele, kadang juga kami diam cukup lama, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tapi yang pasti, ada rasa nyaman yang tak bisa dijelaskan—karena kami tahu, kami tidak sendiri dalam proses ini.
Di foto ini, adikku sedang melihat bingkai-bingkai foto di toko. Sekilas, tampak seperti momen biasa. Tapi bagi aku, ini adalah bagian dari perjalanan kecil yang berarti. Karena setiap perjalanan bersama adikku, sekecil apa pun, selalu membawa kenangan dan rasa syukur.
Abah mungkin akan selalu jadi partner jalan favorit nomor satu—dengan segala kebijaksanaannya dan pelajaran hidup yang tak terucap. Tapi adikku, kamu adalah partner jalan yang membuat proses tumbuh dewasa jadi lebih ringan. Denganmu, aku belajar bahwa menjadi dewasa tak harus sendirian.
Terima kasih telah menjadi teman berkendara, teman berpikir, dan teman berbagi harapan. Semoga perjalanan kita, di jalan dan dalam hidup, selalu dipenuhi arah yang baik dan hati yang kuat.

Komentar
Posting Komentar