Selagi Orang Tuaku Masih Ada, Duniaku Baik-Baik Saja
Ada fase dalam hidup ketika dunia terasa begitu gaduh. Hiruk pikuk pekerjaan, ekspektasi orang-orang, tuntutan usia, dan segala hal yang seringkali membuat dada sesak. Tapi, di tengah itu semua… ada satu hal yang selalu membuatku tenang: keberadaan kedua orang tuaku.
Selama masih ada Mama dan Bapak… rasanya dunia ini tidak benar-benar jahat.
Aku tak butuh banyak untuk merasa cukup. Di luar sana, hujan turun deras, angin membawa dingin hingga menembus dinding rumah kami. Tapi di dalam… ada aroma teh hangat dari dapur, ada suara televisi yang pelan di ruang keluarga, ada celoteh sederhana antara aku dan Bapak. Obrolan tentang masa kecilnya, tentang hal-hal ringan yang sebenarnya sudah sering kami bicarakan. Tapi anehnya… tetap hangat. Tetap ingin kudengar. Lagi dan lagi.
Kehangatan yang Tak Tergantikan
Bersama mereka, waktu seolah melambat. Seperti Allah sedang memberiku waktu tambahan… agar aku bisa lebih lama menikmati tawa mereka, diam mereka, bahkan keluh kecil mereka yang kini terasa begitu berharga.
Ada kedamaian yang tak bisa dibeli dalam momen-momen sederhana itu. Seperti saat aku rebahan di samping Mama, menggenggam tangannya yang mulai dipenuhi gurat usia. Tanpa banyak kata, cukup mendengar napasnya yang pelan dan teratur, cukup merasakan hangatnya kulit tangannya yang selalu membawa ketenangan.
Dan Bapak… dengan bahasa cintanya yang khas. Tak selalu lewat ucapan langsung, tapi lewat tulisan-tulisan sederhana yang diam-diam beliau tulis untuk anak-anaknya. Catatan kecil penuh harapan, pesan-pesan singkat yang berisi doa dan motivasi… semua itu menjadi jejak cinta yang tak pernah lekang oleh waktu. Barangkali aku tak selalu membalasnya dengan kata, tapi setiap baris yang beliau tulis… diam-diam kusimpan di dalam hati.
Dunia yang Aman, Meski Tak Sempurna
Selama mereka ada, aku tahu… aku masih punya tempat untuk pulang. Tempat di mana aku tak harus pura-pura kuat. Tempat di mana air mataku boleh jatuh tanpa perlu alasan. Tempat di mana tanganku selalu ada yang menggenggam, meski dunia di luar sana terus membuatku letih.
Mereka adalah pagar tak terlihat yang selama ini menahanku dari banyak hal buruk. Mereka adalah alasan kenapa setiap kali aku terjatuh, aku masih bisa bangkit. Karena aku tahu… ada dua sosok yang selalu menyebut namaku dalam sujud mereka.
Sebelum Semua Hanya Tinggal Doa dan Ingatan
Aku sadar… hidup ini adalah perjalanan dengan arah yang tak pernah benar-benar bisa kutebak. Waktu berjalan tanpa pernah menunggu, dan tak seorang pun tahu, siapa yang akan lebih dulu melanjutkan perjalanan ke tempat yang lebih jauh.
Karena itu… aku ingin mengisi hari-hari ini dengan sebaik-baiknya. Menyimpan lebih banyak senyum Mama di ingatan, merekam lebih banyak pesan-pesan Bapak dalam hati, dan menghadirkan lebih banyak tawa di tengah kebersamaan yang seringkali sederhana… tapi penuh makna.
Aku ingin menjadi anak yang lebih sabar, lebih banyak mendengar, lebih ringan membantu, dan lebih tulus mencintai. Agar kelak… ketika takdir memisahkan langkah-langkah ini, yang tersisa hanyalah jejak kebaikan… dan doa-doa yang tak pernah putus.
Selagi kesempatan itu masih Allah titipkan… aku ingin hadir seutuhnya. Tanpa penundaan… tanpa setengah hati.
---
Selagi orang tuaku masih ada, duniaku baik-baik saja.
Dan untuk itu… aku bersyukur. Dengan sepenuh jiwa, setiap hari.

Selalu tersentuh dengan setiap bait kata yang April tulis, keren banget Pril.
BalasHapusMasyaallah, jazakillah khoiron. Terima kasih dukungannya Nural, berarti banget ini hehee.<3
Hapus