Saat Dewasa Tak Lagi Soal Usia

Ada masa dalam hidup yang tak pernah benar-benar diajarkan secara gamblang. Masa ketika kita tidak lagi bisa bertanya, “Aku harus pilih yang mana?”, karena jawabannya tidak sesederhana itu. Karena pada akhirnya, yang terpenting bukan hanya tentang memilih… tetapi tentang kesanggupan menanggung konsekuensi dari pilihan yang kita ambil.

Usia bertambah, pertanyaan semakin kompleks. Ada yang datang dari luar, dengan suara yang lembut tapi menikam: “Sudah kerja di mana sekarang?” “Kapan menyusul teman-temanmu?” Ada pula yang datang dari dalam, dari ruang kecil di hati yang semakin bising karena pertarungan logika dan rasa. Aku mulai menyadari, bahwa hidup dewasa tak lagi bisa dijalani dengan langkah ringan. Ada beban yang ikut di pundak, ada harapan-harapan yang menggantung dari banyak arah.

Aku pernah duduk lama menatap dinding kamar, mempertimbangkan banyak hal. Karier di luar kota yang tampak menjanjikan, tapi begitu jauh. Menikah yang terdengar baik, tapi aku belum benar-benar merasa siap. Atau tetap bertahan di tempat nyaman, mengajar mengaji anak TKA TPAku dan membersamai orang tua-hal yang menenangkan tapi tak bisa menepis gemuruh batin tentang masa depan.

Beberapa hal sudah kutata, sudah kusiapkan sedemikian rupa. Aku bukan tidak bergerak. Hanya saja, tidak semua langkah langsung menghasilkan hasil yang bisa dirayakan. Ada jeda. Ada diam. Ada fase di mana aku hanya bisa menangis diam-diam, bukan karena tak tahu jalan, tetapi karena merasa belum cukup kuat untuk menapakinya sendirian.

Lalu aku mengadu. Dalam sujud yang panjang, dalam malam-malam sunyi yang hanya diisi bisik doa. Aku menyerahkan segalanya kepada Dia yang Maha Tahu isi hati. Sungguh, jika ada satu hal yang kusadari dari semua ini, maka itu adalah: manusia bisa merancang, tapi hanya Allah yang menentukan arah angin.

Dan akhirnya... angin itu membawaku pergi. Ke tempat yang belum pernah kupijak. Ke kota yang tidak menyimpan satu pun wajah yang kukenal. Sebuah ruang asing yang menantang keberanian sekaligus keteguhan. Tak ada yang benar-benar siap, katanya. Tapi ada keberanian yang tumbuh bukan dari keyakinan bahwa semuanya akan mudah, melainkan dari iman bahwa Allah tidak akan meninggalkan langkah yang dijalani karena-Nya.

Aku tidak pergi karena aku kuat. Aku hanya sedang belajar percaya. Bahwa terkadang, jalan terbaik bukan yang paling nyaman. Bukan pula yang paling banyak disetujui. Tapi yang membuat kita semakin dekat kepada-Nya, meski harus tertatih di awal, meski harus meninggalkan banyak hal yang kita sayangi.

Aku tahu, setelah ini tak akan ada lagi pagi yang sama. Tak ada lagi suara ibu di balik pintu kamar. Tak ada lagi tawa adik-adik ngaji yang menyambut dengan malu-malu. Tapi bukankah memang seperti ini dewasa itu? Belajar merelakan kenyamanan demi menjemput kemungkinan yang lebih besar.

Mungkin langkah ini tak terlihat megah. Tapi bagiku, ini adalah bentuk keberanian paling tulus: berjalan dengan gemetar, tapi tetap melangkah.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang menghindari risiko, melainkan tentang mencari keberkahan dari setiap keputusan. Dan tak ada langkah yang sia-sia, jika niatnya lurus dan tawakalnya penuh. Semoga Allah rida dengan perjalanan ini…

Komentar

Postingan Populer