Kisah Bu Y: Bayang-Bayang Putih di Masa Kecil
Bu Y lahir dari seorang perempuan yang begitu mendambakan kehadirannya. Sejak kecil, ia tumbuh dengan cinta yang tulus dari sang ibu, meski takdir ternyata menyimpan ujian berat.
Saat usianya baru menginjak kelas empat sekolah dasar, langit kehidupannya mulai mendung. Sang ibu jatuh sakit tumor di perut membuatnya harus menjalani perawatan intensif. Sejak saat itu, hari-hari kecil Bu Y diwarnai rasa cemas.
Ia masih ingat jelas satu momen yang terus terpatri dalam ingatan: bendera kain putih yang terkadang dipasang di depan rumah orang berduka. Setiap kali ia pulang sekolah, langkah kakinya gemetar. “Apakah hari ini ada yang akan memanggilku pulang? Apakah ibu sudah pergi?” pikirnya. Bayangan itu menyesakkan, membuatnya sulit berkonsentrasi belajar, seolah masa kanak-kanak yang seharusnya riang terampas oleh kecemasan akan kehilangan.
Namun, justru dari pengalaman itu Bu Y belajar tentang kekuatan hati. Tentang bagaimana anak kecil pun bisa tumbuh dengan keteguhan, meski dihadapkan pada kemungkinan kehilangan terbesar dalam hidupnya, seorang ibu.
Sayangnya, setelah kepergian sang ibu, dunia Bu Y tidak serta-merta membaik. Ia tak pernah benar-benar dekat dengan ayahnya, seorang kiai yang dihormati banyak orang, tetapi terasa jauh dari anaknya sendiri. Kekosongan itu meninggalkan ruang hampa dalam jiwanya. Tidak ada tempat yang betul-betul ia rasakan sebagai rumah. Masa remajanya sempat porak-poranda, diguncang oleh rasa kehilangan, kesepian, dan dahaga akan kasih sayang yang tak terpenuhi.
Tetapi ada satu hal yang tidak pernah ia tinggalkan, Tuhannya. Di tengah rapuhnya pertahanan jiwa, dalam gelapnya rasa sepi, hanya hubungan dengan Sang Pencipta yang tetap menjadi pijakan. Doa-doa yang lirih, air mata yang mengalir di sepertiga malam, dan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah benar-benar meninggalkannya menjadi pelita yang menyelamatkan.
Kini, ketika Bu Y menoleh ke belakang, ia menyadari bahwa luka-luka itu membentuk dirinya. Bahwa meski tumbuh tanpa pelukan hangat orang tua, ia tetap memiliki pegangan yang lebih kuat, iman. Dan dari situlah, ia belajar bahwa manusia bisa saja mengecewakan, tapi Tuhan tidak pernah pergi.

Komentar
Posting Komentar