Di Balik Jam Kosong, Ada Ruang untuk Bertumbuh
Tidak semua pembelajaran terjadi saat guru berdiri di depan kelas dengan materi yang sudah tersusun rapi. Hari ini justru menjadi pengingat bahwa kesempatan belajar bisa hadir dari hal-hal yang tidak direncanakan.
Hari ini jadwalku hanya mengajar satu kelas, yaitu kelas VII, dan itu pun di jam siang. Namun, pagi harinya mereka memiliki jam kosong karena guru mata pelajaran Pendidikan Agama Hindu belum dapat masuk pada pekan ini.
Saat menginformasikan hal itu, spontan mereka bersorak, "Hore!"
Aku pun tersenyum sambil mengingatkan, "Boleh jam kosong, tapi tetap beraktivitas di dalam kelas dan jangan mengganggu kelas lain, ya."
Tak lama kemudian, beberapa murid menghampiriku untuk meminta izin menggeser kursi ke pinggir kelas agar bagian tengah bisa mereka gunakan untuk bermain bersama. Setelah kuizinkan dengan syarat tetap menjaga ketertiban dan tidak mengganggu kelas lain, mereka pun mulai menata kursi dengan rapi. Melihat antusiasme mereka, aku teringat pada Arya, salah satu murid yang masih mengalami kesulitan membaca dan menulis karena belum hafal huruf A sampai Z.
Aku mencoba mengajaknya belajar.
Awalnya aku mengajaknya ke ruang kantor yang lebih tenang, tetapi ia menolak. Aku menawarkan tempat lain, tetap saja ia belum mau. Mungkin yang ia butuhkan bukan tempat yang berbeda, melainkan rasa nyaman.
Aku memilih untuk tidak memaksanya. Sebaliknya, aku mengajaknya berbincang santai, memberi sedikit motivasi, dan mencairkan suasana. Perlahan ia mulai membuka diri.
"Kalau kita belajar di sini saja bagaimana?"
Tak disangka, ia langsung bergegas menyiapkan kursi di samping tempat duduknya. Ternyata kursi itu ia siapkan untukku.
Momen sederhana itu terasa begitu hangat. Rasanya seperti sebuah tanda bahwa ia mulai percaya dan siap belajar bersama.
Di tengah teman-temannya yang asyik bermain, kami mulai belajar mengenal kembali huruf-huruf alfabet, membacanya satu per satu, lalu berlatih menuliskannya. Prosesnya memang tidak cepat, tetapi setiap huruf yang berhasil ia kenali dan tulis terasa seperti sebuah kemajuan yang patut dirayakan.
Sesekali aku mengingatkan teman-temannya agar tidak terlalu ribut, dan mereka menghargainya. Suasana kelas tetap hidup, tetapi tidak mengganggu proses belajar kami.
Yang membuatku semakin terenyuh adalah sikap teman-teman sekelasnya.
Beberapa kali mereka menghampiri kami. Bukan untuk mengejek atau membuat Arya merasa malu karena belum lancar membaca dan menulis, melainkan untuk memberi semangat. Bahkan ada yang ikut membantu mengajarinya mengenal huruf dan membacanya. Hari ini aku melihat sebuah kelas yang benar-benar terasa inklusif, aman, dan nyaman.
Di sela-sela kegiatan itu, ada murid yang melaporkan temannya mengucapkan kata-kata yang kurang pantas. Sesuai kesepakatan kelas yang telah kami buat pada pertemuan pertama, murid tersebut menjalankan konsekuensi berupa push-up. Bukan sebagai hukuman untuk mempermalukan, melainkan sebagai bentuk pembiasaan bahwa setiap aturan yang disepakati bersama memiliki tanggung jawab untuk dipatuhi.
Hari ini aku kembali diingatkan bahwa pendidikan bukan hanya tentang menyampaikan materi. Terkadang, keberhasilan terbesar justru ketika seorang murid yang awalnya menolak belajar akhirnya mau mengenal satu demi satu huruf, berani menuliskannya, dan dikelilingi oleh teman-teman yang memilih membantu daripada menertawakan.
Mungkin hari ini kami tidak menyelesaikan banyak materi pelajaran. Namun, kami sedang membangun sesuatu yang jauh lebih penting: kepercayaan diri, empati, dan keyakinan bahwa setiap murid berhak bertumbuh sesuai prosesnya masing-masing.
Dan bagiku, itulah pembelajaran yang sesungguhnya.
Siang nanti aku masih akan kembali ke kelas untuk menyampaikan materi yang telah dijadwalkan. Namun, pelajaran yang kudapat pagi ini terasa tak kalah berharga. ~



Komentar
Posting Komentar