"Kapan Nikah?" Barangkali Pertanyaan yang Paling Melelahkan bagi Sebagian Perempuan

Hari ini, ada satu pemandangan yang entah mengapa terus menetap di kepalaku.

Seorang teman mengajarku datang menghampiri dengan mata yang sudah memerah. Belum sempat duduk, tangisnya lebih dulu pecah. Ia mencoba bercerita, meski beberapa kali suaranya terputus oleh isak.

Orang tuanya ingin ia segera menikah.

Bahkan, ibunya sudah mulai mengenalkannya dengan seorang laki-laki yang merupakan kenalan tetangga. Bagi sang ibu, mungkin itu bentuk kasih sayang. Bentuk ikhtiar agar anak perempuannya tidak terlalu lama sendiri.

Namun, bagi temanku, semuanya terasa begitu sesak.

Ia tidak ingin menikah hanya karena dikejar usia. Ia tidak ingin menerima seseorang hanya karena orang lain menganggap "sudah waktunya". Laki-laki itu bukan sosok yang ia bayangkan sebagai teman hidupnya. Cara berpenampilan, kebiasaannya, hingga kesan yang ia rasakan membuat hatinya berkata, "Tidak."

Aku hanya duduk mendengarkan. Tidak banyak kata yang keluar dariku. Sebab terkadang, orang yang sedang sedih tidak membutuhkan jawaban. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menemani kesedihannya.

Namun, sepanjang perjalanan pulang, pikiranku justru sibuk berbicara pada diriku sendiri.

Usiaku juga sudah 25 tahun.

Lalu muncul satu pertanyaan yang belum pernah benar-benar kupikirkan sebelumnya.

Apakah sebenarnya Ayah dan Ibuku juga menyimpan kegelisahan yang sama?

Apakah mereka juga diam-diam menghitung usia anak perempuannya yang semakin bertambah?

Apakah setiap kali menghadiri pernikahan saudara atau melihat teman-temanku mulai membangun keluarga, mereka juga pernah bertanya dalam hati, "Kapan ya giliran anakku?"

Atau mungkin...

Mereka sengaja menyimpan kegelisahan itu sendiri agar aku tidak ikut terbebani.

Aku tidak tahu.

Selama ini mereka tidak pernah memaksaku. Tidak pernah membandingkanku dengan anak orang lain. Tidak pernah membawa pulang foto seseorang untuk dikenalkan. Mereka hanya sesekali bertanya dengan lembut, lalu kembali mendoakan dalam diam.

Mungkin di balik diam itu ada kecemasan yang tidak pernah mereka ucapkan. 

Mungkin ada doa-doa yang dipanjatkan lebih lama setiap selesai salat.

Dan mungkin, mereka sedang belajar percaya bahwa setiap anak memiliki garis waktunya sendiri.

Melihat temanku hari ini membuatku sadar bahwa tekanan tentang usia bukan cerita yang jauh. Ia ada di sekitar kita. Bahkan mungkin, suatu hari nanti, aku juga akan berdiri di posisi yang sama.

Hari ini aku mendengarkan tangis itu.

Besok, entahlah.

Mungkin aku hanya sedang menunggu giliran.

Yang membuatku sering bertanya adalah, mengapa perempuan yang sudah melewati usia 25 tahun seolah harus bertarung dengan waktu?

"Kapan nikah?"

"Jangan pilih-pilih."

"Nanti keburu tua."

"Kalau kelamaan, siapa yang mau?"

Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana, tetapi bagi sebagian perempuan, ia menjadi beban yang terus dipikul.

Padahal, menikah bukan perlombaan.

Tidak ada medali bagi yang paling cepat menikah. Tidak ada hadiah bagi yang paling dahulu menggelar resepsi.

Karena setelah pesta selesai, justru perjalanan yang sesungguhnya baru dimulai.

Seumur hidup adalah waktu yang sangat panjang.

Kita akan bangun di samping orang yang sama, berbagi lelah, berbagi keputusan, menghadapi masalah, membesarkan anak, saling merawat ketika sakit, hingga menua bersama.

Kalau begitu, bukankah menjadi selektif adalah sesuatu yang sangat wajar?

Sering kali perempuan yang berhati-hati memilih pasangan diberi label "terlalu pilih-pilih". Seolah-olah standar adalah kesalahan.

Padahal, memilih pasangan hidup bukan seperti memilih pakaian yang bisa diganti jika tidak cocok. Ini adalah keputusan yang akan memengaruhi puluhan tahun kehidupan.

Menunggu bukan berarti sombong.

Menolak bukan berarti merasa paling sempurna.

Dan belum menikah bukan berarti gagal.

Barangkali seseorang hanya sedang menjaga dirinya dari keputusan yang keliru.

Aku juga belajar memahami bahwa setiap orang tua memiliki cara yang berbeda dalam mencintai anaknya.

Ada yang menunjukkan kasih sayang dengan terus mendesak.

Ada yang memilih diam sambil mendoakan.

Tidak semuanya salah. Tidak semuanya benar. Mungkin mereka hanya sama-sama takut. Takut anaknya kesepian. Takut tidak ada yang menemani ketika mereka sudah tiada.

Dan sebagai anak, mungkin kita perlu memahami kegelisahan itu.

Sebaliknya, sebagai orang tua, mungkin juga perlu dipahami bahwa anak-anaknya bukan sedang menolak menikah. Mereka hanya sedang berusaha memilih seseorang yang benar-benar pantas menjadi teman hidup.

Karena menikah bukan tentang menemukan seseorang secepat mungkin.

Melainkan menemukan seseorang yang, insyaallah, tepat untuk menemani perjalanan yang sangat panjang.

Hari ini aku pulang membawa banyak pikiran.

Bukan hanya tentang tangis temanku.

Tetapi juga tentang diriku sendiri.

Tentang usiaku yang kini juga 25 tahun.

Tentang orang tuaku yang mungkin menyimpan doa-doa yang tak pernah mereka ceritakan.

Dan tentang kemungkinan bahwa suatu hari nanti, aku pun akan dihadapkan pada pertanyaan yang sama.

Namun satu hal yang ingin terus kuingat, baik untuk diriku maupun perempuan-perempuan lain di luar sana.

Tidak ada yang salah dengan berhati-hati untuk keputusan yang akan dijalani seumur hidup. Karena yang dikejar bukan sekadar status "menikah", melainkan ketenangan ketika menjalaninya.

Komentar

Postingan Populer